Mengemis, Nasib atau Profesi?

April 19, 2007 at 9:34 am | Posted in True Story | 3 Comments

“Om…”
Hanya satu kata. Bersamaan dengan itu, tangan perempuan paruh baya pengucapnya menjulur ke jendela mobil. Matanya yang sudah mulai berkeriput menatap sayu, seolah telah sekian hari tak menyantap makanan.

Rambutnya yang tertutup topi dan kerudung lusuh terlihat acak-acakan. Saat kepingan uang ratusan diulurkan pengemudi mobil, senyum lirih terpancar. Kemudian, perempuan itu pun berjalan gontai ke arah mobil lain. Pengemudi mobil hanya bisa tersenyum.

Menengadahkan tangan mengharap belas kasih orang. Tak seorang pun sudi melakoninya. Tapi di tengah himpitan kesulitan ekonomi, pekerjaan yang dianggap hina pun bisa saja dilakukan. Tengoklah tempat-tempat keramaian di kota besar seperti Bandung.

Plaza Bandung Indah dan sekitar jalan tol merupakan tempat yang sering didiami oleh para pengemis untuk sekadar mengais rezeki. Mayoritas dari para pengemis itu adalah perempuan, orang tua, dan orang-orang yang cacat. Dengan pakaian lusuh dan muka lelah mereka menunggu kucuran uang receh yang akan dikeluarkan dari tangan dermawan.

Mata sayu, wajah memelas, jalan yang gontai, merupakan sebagian dari kiat para pengemis untuk menguras belas kasih orang lain. Puluhan kiat dipakai para pengemis dalam mengusik rasa iba orang agar mau meluncurkan keping-keping ratusannya. Continue Reading Mengemis, Nasib atau Profesi?…

Advertisements

Otih Munandar: ”Kami Tidak Mau Disebut Kampung Pengemis!!!”

April 19, 2007 at 9:20 am | Posted in True Story | 11 Comments

Berikut adalah kisah pengemis di Bandung, Jawa Barat. Tulisan ini merupakan hasil depth reporting-ku yang telah dimuat di Koran Republika (Jawa BArat pada Desember 2005). Semoga kisah ini bisa menyentuh hati kita semua.

Potret daerah Sukajadi yang dikenal sebagai daerah pengemis memang telah menggema sejak dulu, bahkan hingga ke luar negeri. Apa yang membuat daerah ini begitu tenar dengan embel-embel pengemisnya? Mungkinkah ada sindikasi pengemis di sana?

Saat ini, di kelurahan Sukabungah, Sukajadi, hidup sekitar 17 ribu orang yang terdaftar sebagai penduduk tetap. Namun, jumlah penduduknya meningkat menjadi 20 ribu orang karena ditambah dengan para pendatang yang sebagian besar adalah pengemis.

Di daerah seluas 49,9 hektar itu, terdapat 12 RW. Dari jumlah RW yang ada, terdapat tiga RW yang menjadi sarang pengemis, dan yang terbanyak adalah di RW 4.

Dulu, di RT 10 daerah tersebut, 85 persen penduduknya adalah pengemis. Mereka adalah pengemis murni. Para pengemis yang mencoba mengadu nasib ke Bandung itu berasal dari sebuah daerah, yaitu Brebes, Jawa Tengah. Sekarang, pengemis yang bermukim di gang Eme Atas dan Gang Asli, daerah Sukajadi ini, bukan lagi sebagai pengemis murni. Para pengemis yang ada saat ini memang masih berasal dari Brebes, tapi mereka sekarang lebih banyak menjadi pengemis musiman. Jumlah mereka semakin membengkak ketika bulan Ramadhan datang hingga hari raya Idul Fitri. Continue Reading Otih Munandar: ”Kami Tidak Mau Disebut Kampung Pengemis!!!”…

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.