<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>wiDYa JouRNaLisT &#187; True Story</title>
	<atom:link href="http://widyajurnalis.wordpress.com/category/true-story/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://widyajurnalis.wordpress.com</link>
	<description>It's About WorLd and FacT</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jun 2008 09:31:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='widyajurnalis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/29ee7778deda50bf2ddd710cd165424d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>wiDYa JouRNaLisT &#187; True Story</title>
		<link>http://widyajurnalis.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mengemis, Nasib atau Profesi?</title>
		<link>http://widyajurnalis.wordpress.com/2007/04/19/mengemis-nasib-atau-profesi/</link>
		<comments>http://widyajurnalis.wordpress.com/2007/04/19/mengemis-nasib-atau-profesi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2007 09:34:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>widya</dc:creator>
				<category><![CDATA[True Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://widyajurnalis.wordpress.com/2007/04/19/mengemis-nasib-atau-profesi/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Om&#8230;&#8221;
Hanya satu kata. Bersamaan dengan itu, tangan perempuan paruh baya pengucapnya menjulur ke jendela mobil. Matanya yang sudah mulai berkeriput menatap sayu, seolah telah sekian hari tak menyantap makanan.
Rambutnya yang tertutup topi dan kerudung lusuh terlihat acak-acakan. Saat kepingan uang ratusan diulurkan pengemudi mobil, senyum lirih terpancar. Kemudian, perempuan itu pun berjalan gontai ke arah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widyajurnalis.wordpress.com&blog=211401&post=75&subd=widyajurnalis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:caL_YoMJQD5O9M:http://a7.vox.com/6a00c225204cb8604a00c22528aabf8fdb-320pi" align="left" height="89" width="118" />&#8220;Om&#8230;&#8221;<br />
Hanya satu kata. Bersamaan dengan itu, tangan perempuan paruh baya pengucapnya menjulur ke jendela mobil. Matanya yang sudah mulai berkeriput menatap sayu, seolah telah sekian hari tak menyantap makanan.</p>
<p>Rambutnya yang tertutup topi dan kerudung lusuh terlihat acak-acakan. Saat kepingan uang ratusan diulurkan pengemudi mobil, senyum lirih terpancar. Kemudian, perempuan itu pun berjalan gontai ke arah mobil lain. Pengemudi mobil hanya bisa tersenyum.</p>
<p>Menengadahkan tangan mengharap belas kasih orang. Tak seorang pun sudi melakoninya. Tapi di tengah himpitan kesulitan ekonomi, pekerjaan yang dianggap hina pun bisa saja dilakukan. Tengoklah tempat-tempat keramaian di kota besar seperti Bandung.</p>
<p>Plaza Bandung Indah dan sekitar jalan tol merupakan tempat yang sering didiami oleh para pengemis untuk sekadar mengais rezeki. Mayoritas dari para pengemis itu adalah perempuan, orang tua, dan orang-orang yang cacat. Dengan pakaian lusuh dan muka lelah mereka menunggu kucuran uang receh yang akan dikeluarkan dari tangan dermawan.</p>
<p>Mata sayu, wajah memelas, jalan yang gontai, merupakan sebagian dari kiat para pengemis untuk menguras belas kasih orang lain. Puluhan kiat dipakai para pengemis dalam mengusik rasa iba orang agar mau meluncurkan keping-keping ratusannya. <span id="more-75"></span></p>
<p><img src="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/featured_pic/18/wimax46260cb6b324d.gif" align="right" height="86" width="123" />Pengemis di kota Bandung dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan yang signifikan. Mereka kebanyakan berasal dari Cilacap, Purwokerto, Tasikmalaya, dan Brebes. Tasikmalaya hanya dijadikan sebagai kota transit beberapa pengemis.</p>
<p>Biasanya, menjelang bulan Ramadhan hingga Idul Fitri, jumlah pengemis yang mendiami kota Bandung mencapai puncaknya. Sampai akhir tahun 2003, jumlah pengemis yang terdata di kantor Dinas Sosial kota Bandung mencapai 3.949 orang, sedangkan pada tahun 2004 ini, diperkirakan jumlah pengemis yang ada mencapai enam ribu orang.</p>
<p>Kesulitan ekonomi biasanya menjadi alasan bagi para pengemis untuk merantau ke Bandung. Kebanyakan dari para pengemis itu mengaku tidak memiliki modal untuk membuka usaha, apalagi ditambah dengan penguasaan keterampilan kerja yang sangat minim. Faktor daerah asal yang kondisi alamnya kurang mendukung pun semakin memperkuat motif para pengemis untuk hijrah ke Bandung. ”Di Jawa kerjaan ada, tapi susah. Di Bandung masih rada aman. Kalau ngemis di Jakarta, kemudian ditangkap, harus bayar tebusan sampai dua juta. Daripada nyolong, mending minta-minta,” tutur Darso, pengemis asal Brebes yang menyambung hidup di kota kembang dengan menuntun kawannya yang buta.</p>
<p>Sebagian besar pengemis yang ada di kota Bandung memang berasal dari Brebes, Jawa tengah. Brebes adalah sebuah daerah yang terkenal akan telur asin dan bawang merahnya. Namun, daerah itu sering kali dilanda kekeringan, sehingga masyarakatnya yang sebagian besar hidup dari bertani harus menghadapi beberapa kali masa paceklik dalam setahun. Ketika masa itu datang, biasanya hasil panen pun menurun, sehingga dalam setahun biasanya petani hanya bisa panen satu kali. Imbasnya, banyak petani dan warga Brebes yang ingin merantau ke kota-kota besar demi mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Bandung adalah salah satu kota tujuan mereka.</p>
<p>Ketika berpamitan dengan para tetangga di kampungnya, biasanya para pengemis itu berdalih bahwa mereka akan menengok saudaranya di Bandung. Namun, ada juga yang terang-terangan menyatakan bahwa mereka berniat mengadu nasib. ”Enaknya apa jadi orang bawah. Kalau di kampung orang-orang pada tau kalau kita kerjanya mengemis. Kalau ditutup-tutupi, tentu saja semua tetangga juga akan tau. Saudara miskin semuanya,” jelas Wati, pengemis yang mengaku tidak pernah mengenyam bangku sekolah.</p>
<p><strong>Pendapatan Pengemis<br />
</strong><img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:YSgJXbC7b3q0tM:http://i1.trekearth.com/photos/33611/pengemis_butaa_s_.jpg" align="left" />Rezeki orang memang kadang tidak dapat diramalkan. Begitu juga dengan pendapatan yang diperoleh para pengemis. Menurut pengakuan beberapa pengemis, dalam sehari mereka hanya bisa memperoleh pendapatan yang berkisar antara Rp. 10.000 hingga Rp. 20.000. Bahkan, pengemis yang buta harus rela membagi dua penghasilannya dengan orang yang menuntunnya ketika ia mengemis dari pagi hingga sore hari.</p>
<p>”Biasanya keluar minta-minta mulai jam enam atau jam tujuh pagi. Biasanya kalau dapat hasil minta-minta dibagi dua sama Darso. Misalnya saya dapat Rp. 20.000 atau Rp. 10.000, ya&#8230; hasilnya dibagi dua,” tukas Tardi, pengemis buta asal Brebes yang datang ke Bandung berbarengan dengan kawan sekampungnya, Darso.</p>
<p>Namun, pendapatan yang diperoleh Tardi dan Darso masih lebih baik bila dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh suami Nyonya Rus, Dulmanan. Laki-laki buta berusia enam puluh tahun ini biasanya meminta-minta di daerah Geger Kalong. Namun, kegiatan itu tidak dilakukan setiap hari.  Dalam seminggu biasanya Dulmanan hanya bisa mendapatkan uang Rp. 15.000 untuk menghidupi keluarganya. Uang itu digunakan untuk makan sehari-hari keluarganya. Dulmanan memang buta. Ketika pergi meminta-minta, ia bergantung kepada istrinya untuk mengantarkannya ke Geger kalong.<br />
”Bapak kerjanya minta-minta. Kalau Bapak sudah dianterin ke Geger Kalong, saya pulang lagi. Bapak minta-mintanya ga tiap hari, seminggu cuma lima kali. Bapak menjadi pengemis dari sepuluh tahun lalu. Kalau minta-minta, paling besar dalam seminggu cuma dapat Rp. 15.000. Bapak biasanya minta-minta dari jam enam pagi sampai jam  sebelas siang. Kalau uang Rp. 15.000 ga cukup, ya makan seadanya,” tutur Rus, istri Dulmanan, yang dulunya sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga.</p>
<p>Tidak banyak pihak yang mempercayai bahwa para pengemis hanya mendapatkan uang yang berkisar antara Rp. 10.000 hingga Rp. 20.000. Pihak Dinas Sosial misalnya. Dari hasil pemantauan mereka, para pengemis itu biasanya bisa mendapatkan uang hingga mencapai puluhan ribu. ”Dalam satu keluarga, rata-rata para pengemis itu bisa menghasilkan Rp. 100.000. Anak-anaknya biasanya dibawa juga. Apalagi kalau bulan puasa dan Lebaran. Biasanya hampir tiga kali lipat jumlah pengemis yang ada pada hari biasanya,” jelas Rukman, pelaksana rehabilitasi sosial Kantor Sosial Kota Bandung.</p>
<p>Namun, pendapat banyak pihak yang menyangsikan kecilnya pendapatan para pengemis memang diketahui oleh para pengemis. Pengemis-pengemis di kota Bandung menyangkal kalau mereka sebenarnya orang berada di kampung halamannya. ”Kalau sehari dapat Rp. 6.000. Itu bisa disimpan Rp. 3.000 untuk mengirim pada keluarga, sedangkan Rp. 3.000 lainnya untuk makan dan rokok. Kalau ga dapat sekitar Rp. 6.000, biasanya nyari lagi, misalnya di Kebon Kelapa. Kadang-kadang sekitar jam delapan malam baru pulang. Kadang kalau kaya gitu dapatnya bisa Rp. 7.000 atau Rp. 10.000. Sekarang kalau bulan tua dan tahun baru lagi sepi. Jadi, untuk makan saja masih kurang. Ga benar kalau pengemis itu mendapat penghasilan sampai ratusan ribu, apalagi jutaan,” jelas Lili Suryana, pengemis asal Banjar yang sudah hampir dua tahun mengemis di kota Bandung.</p>
<p><strong>Kehadiran Rentenir?</strong><br />
<img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Ry0flQBHeL8jQM:http://www.sealindo.com/images/panduan/emotikon/emotikon_img_01.gif" align="right" />Kehidupan sehari-hari para pengemis kadang lebih tragis dari yang dibayangkan orang-orang. Biasanya, mereka berangkat dari tempat tinggalnya di Sukajadi pukul delapan pagi. Hampir seharian mereka menghabiskan waktu di jalanan untuk sekadar meminta-minta. Para pengemis itu biasanya kembali ke rumah mereka sekitar pukul empat sore.</p>
<p>Selepas meminta-minta, biasanya para pengemis itu akan kedatangan tamu yang rutin datang menemui mereka sekitar pukul lima sore. Mereka adalah para rentenir yang oleh para pengemis disebut Batak.</p>
<p>”Saya dulunya dagang. Tapi karena modalnya dapat utang dari Batak, jadi bangkrut. Batak itu sengaja minjemin uang, dagang uang. Saya pinjem karena saya butuh. Kalau ga butuh, buat apa minjem yang ada bunganya. Tiap hari harus setor ke mereka. Lama-lama uangnya habis. Batak itu saban hari nagih. Jadi, kita pulang dapat duit buat bayar utang. Kadang kalau mau pulang ke Jawa, ga punya uang yah pinjem sama Batak. Nanti kalau pulang lagi ke sini baru bayar. Kalau saya minjem sejuta, bunganya harus Rp. 200.000. Kalau ga bisa bayar, suka dimarahin. Mereka ngomongnya ga enak.  Kaya’ gini: ’Enak aja kamu pinjem duit orang, ga mau bayar,’ begitu kata Batak itu. Padahal saya mau bayar, tapi karena usahanya lagi macet, hujan terus, jadi ga bisa berangkat,” jelas Casmah, pengemis asal Brebes yang sering meminjam uang dari beberapa Batak.</p>
<p>Batak-batak itu memang sengaja menawarkan pinjaman uang kepada pengemis. Proses pinjam-meminjam itu berawal dari keinginan pengemis itu sendiri untuk meminjam karena pendapatan sehari-harinya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.</p>
<p>Para Batak ada yang memang berdomisili di Sukajadi, namun ada juga yang berasal dari luar daerah tersebut. Para pengemis yang meminjam dari para Batak harus mengembalikan uang pinjamannya dalam waktu dua puluh empat hari. Selama jangka waktu itu, setiap hari para pengemis wajib menyetorkan uangnya kepada Batak tersebut, sesuai besarnya setoran yang telah ditentukan oleh sang rentenir. Pengemis juga harus membayar utangnya dengan bunga uang yang telah ditentukan besarnya oleh Batak tersebut.</p>
<p>”Kebanyakan para pengemis itu minjem. Dalam hal utang, mereka sanggup bayar ko. Misalnya mereka pinjam satu juta. Mereka sanggup bayar lima puluh ribu sehari buat cicilan utang. Kalau mereka pinjam uang lima ratus ribu, mereka juga sanggup bayar cicilan dua puluh lima ribu sehari. Saya tidak simpati kepada mereka. Orang itu sebenarnya ga mau kerja. Supaya mereka bayar terus, dikasih jangka waktu dua puluh empat hari,” jelas Linda, salah seorang Batak yang memulai usaha peminjaman uang lewat berdagang pakaian.</p>
<p>Menanggapi keberadaan para Batak itu, kriminolog Yesmil Anwar menilai bahwa hal tersebut merupakan rentetan yang menunjukkan adanya sindikat pengemis. Bahkan, Yesmil menyatakan bahwa hal tersebut mengindikasikan adanya pengemis yang terorganisasi.</p>
<p>”Kalau ini adalah komunitas pengemis, ada sistem rekrutmen tertentu. Saya sudah lihat, mereka itu pakai baju dinas. Jadi, dari Sukajadi ke Dago di mana mereka bekerja itu pakai baju biasa kaya’ kita-kita, tapi kalau sudah sampai di Dago misalnya, mereka ke belakang kios, lalu ganti pakai baju dinas. Betul ini ada sindikasi, ada eksploitasi internal maupun eksternal. Internal dari lingkungannya sendiri kepada bawahannya, baik anaknya, keponakannya, dll. Lalu ada sistem pembagian kerja yang sangat seattlle. Pengemis malah disuruh nyetor. Batak-batak itu juga nyetor ke orang-orang tertentu yang lebih atas lagi. Kemungkinan ada terjadi hal semacam itu. Pengemis itu cuma melihat Batak itu sendiri, tapi di atas Batak itu sendiri ada lagi, kemungkinan aparat pemerintah,” jelas Yesmil yang juga mengajar di Fakultas Hukum Unpad.</p>
<p><strong>Nasib atau Profesi?</strong><br />
<img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:2ULMwPKIU563tM:http://www.tasyaonline.com/edisi14/pemenang/images/pengemis1.gif" align="left" height="116" width="78" />Roman kelaparan yang sering kali ditampilkan pengemis merupakan kiat tergampang untuk meluluhkan hati orang untuk memberikan recehannya kepada para pengemis. Kebutuhan hidup yang cukup tinggi membuat seseorang mempertahankan profesinya sebagai pengemis.</p>
<p>”Saya sudah lima tahun bekerja sebagai peminta-minta. Kalau sudah selesai ngurus di rumah, ya berangkat ke jalan. Dulunya pengen tau aja usaha di kota itu gimana. Di kampung ko kelaparan sekali. Di sini kan mendingan, berangkat ke jalan buat makan bisa. Kalau di kampung, masa’ orang makan harus nunggu satu tahun. Daripada anak-anak saya kelaparan, mendingan kita ke jalan,” imbuh Casmah yang kini memiliki tujuh anak.<br />
Sementara itu, bagi Wati, mengemis merupakan sebuah keterpaksaan dan nasib karena ia pun tidak memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja.</p>
<p>”Suami saya kan kerja kuli, jadi kadang kerja kadang ga. Mau apa lagi, listrik tiap bulan harus bayar, rumah tiap bulan harus bayar. Jadi, terpaksa di jalanan,” jelas Wati dengan nada sedikit menyesali nasibnya.</p>
<p><strong>Perlu Penegakan Hukum</strong><br />
Komersialisasi pengemis sebenarnya sudah diketahui aparat pemerintah. Namun, pemerintah sulit menangkap para preman karena selalu berpindah tempat, sedangkan para pengemis takut membongkar identitas bos mereka karena ditekan.</p>
<p>”Ada kemungkinan mereka terorganisasi. Kalau kita datang ke kota sendiri, tentu kita mencari yang kenal. Apalagi kalau di sana sudah ada yang satu desa. Karena ada kesamaan tujuan dan kesamaan nasib, di kota nanti para pengemis itu tinggal berkumpul karena punya rasa aman. Dari situ mereka terkoordinasi. Dari situ ada satu kepentingan berupa kepentingan kelompok dan kepentingan individu. Untuk kepentingan individu, misalnya mereka harus setor, tapi untuk kepentingan kelompok memang benar-benar mengkoordinasi. Kalau orang awam, mereka menyimpulkan ada oknum yang mengkoordinasi. Makanya kita harus menyikapinya secara mendalam,” jelas Muhammad Nurahman, Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial, menanggapi isu mengenai keberadaan sindikat pengemis di Bandung.</p>
<p>Sejauh ini, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani para pengemis. Upaya penanggulangannya dilakukan dari segi fisik maupun materi. Anggaran untuk menanggulangi para pengemis memang telah disiapkan oleh pemerintah. Dana untuk bimbingan sosial dan pelatihan keterampilan sebesar Rp. 15 juta telah disiapkan untuk dua puluh orang pengemis. Namun, dana Rp. 15 juta itu tidak cukup untuk menanggulangi para pengemis yang ada di Bandung karena uang sejumlah itu disiapkan untuk penanggulangan pengemis selama tiga triwulan. Selain itu, masalah mental juga menjadi kendala untuk memberdayakan para pengemis agar mau beralih profesi.</p>
<p>”Penanganan terhadap pengemis tidak hanya secara fisik, mentalnya juga harus diubah. Mereka terbiasa mendapat uang dengan duduk-duduk dan mengemis. Kalau melihat sistem, cara penanganan sudah formulatif. Langkah penanganan akan efektif kalau akselerasi pembangunan kesejahteraan sosial bisa cepat. Sarana prasana kita ga ada, tidak ada panti, dan tidak ada tempat penampungan. Makanya, penanganannya tidak gampang. Kalau kasih modal ke pengemis itu gampang, tapi masalahnya banyak dari mereka tidak punya kemampuan,” tambah Muhammad Nurahman.</p>
<p>Jalan alternatif juga ditempuh untuk menertibkan pengemis-pengemis yang ada di kota Bandung. Razia yang dilakukan untuk membersihkan Bandung dari pengemis juga telah dilakukan lewat aparat Ketertiban Umum (Tibum). Lewat razia tersebut biasanya para pengemis nantinya dikembalikan ke daerah asalnya. Namun, usaha penertiban itu sering kali mendapat halangan dari pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).</p>
<p><img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:yKEgycqadEFUsM:http://images.tototapalnise.multiply.com/image/2/photos/upload/300x300/RCJq5goKClMAAART2WI1/peng.JPG%3Fet%3DFXXV321ClS5mTqAtFRapTQ" align="right" height="84" width="116" />”Kalau sekali mengadakan razia, bisa mencapai 300 orang yang ditangkap dalam operasi tersebut. Dua tahun ke belakang tidak ada dana untuk penanganan gepeng, cuma ada untuk bimbingan sosial. Kami dari instansi pemerintah sering disudutkan oleh LSM. Biasanya kita mundur dulu ketika disudutkan sambil melihat apakah LSM bisa menangani masalah tersebut. Tapi, kenyataannya pengemis makin banyak di Bandung, padahal sudah ditangani,” tambah Rukman yang merasa bahwa LSM atau pun yayasan yang mengurusi masalah pengemis dan anak jalanan memarginalkan pemerintah dengan mengambil sikap kontra dalam penertiban pengemis di kota Bandung.<br />
Sementara itu, dari pihak yayasan sendiri justru merasa bahwa pemerintah belum begitu serius dalam menangani permasalahan pengemis di kota Bandung.</p>
<p>”Kalau bicara masalah mengemis, mungkin pengemis juga ngerti bahwa itu adalah pekerjaan yang kurang baik. Yang jelas, ini masalah political will yang khusus dari pemerintah untuk mengangkat orang-orang miskin. Yayasan dapat dana dari Depsos. Di kota Bandung, hanya sembilan yayasan yang dapat dari Depsos, salah satunya adalah yayasan Bahtera. Yayasan di sini hanya sebagai jembatan antara Litbang Depsos dengan orang-orang miskin itu,” ungkap Maman Suparman, Koordinator Yayasan Bahtera.</p>
<p>Bila dilihat lebih jauh, masyarakat memiliki peranan di dalam menyuburkan patologi sosial kepengemisan. Secara hukum, pengemis itu melanggar hukum karena dalam KUHP terdapat larangan untuk melakukan pengemisan. Peraturan-peraturan Undang-undang di bawah UUD 1945 masih ”mandul”, sehingga para pengemis masih bisa bebas beroperasi, bahkan tinggal di dalam satu RW atau RT.</p>
<p><img src="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/preview_pic/86/MetaSwitch4624c1ecb80b7.gif" align="right" height="50" width="50" />Dilihat dari sudut patologi sosial, keberadaan pengemis mengganggu keadaan masyarakat, mengganggu tata tertib, dan sering kali mengganggu kenyamanan orang. Akibatnya, bisa timbul tindakan kriminal karena sering kali para pengemis yang ada menghadapi konflik budaya yang akan mendorong mereka untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. ”Sebenarnya masyarakat tidak menyukai, tapi masyarakat bisa bilang apa karena pemerintah tidak bertindak dalam hal ini. Agent of change dan policy-nya harus ada pada pemerintah, dalam hal ini Pemda, Departemen Sosial, dan Polisi. Makanya, masukin mereka (pengemis) ke penjara. Divonis masuk penjara, bukan di-treatment lagi. Kan ada Undang-undangnya. Mereka harus diadili dalam criminal justice system karena di dalam KUHP, orang dilarang mengganggu ketertiban dan melakukan pengemisan. Pasalnya ada kok. Harus ada tindakan hukum yang harus tetap ditegakkan karena jika tidak, kota Bandung akan menjadi kota pengemis,” ucap Yesmil yang merasa bahwa pemerintah saat ini belum tegas dalam menindak para pengemis.</p>
<p>Kehidupan memang akan terus bergulir. Dari pemaparan para pengemis di kota Bandung, menjadi kian rancu melihat kegiatan mengemis yang sering mengusik rasa iba. Apakah mengemis itu nasib atau memang sebuah profesi?</p>
<p><strong><em>Note: Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di Koran Republika (Jawa Barat pada Desember 2005)</em></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/widyajurnalis.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/widyajurnalis.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/widyajurnalis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/widyajurnalis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/widyajurnalis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/widyajurnalis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/widyajurnalis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/widyajurnalis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/widyajurnalis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/widyajurnalis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/widyajurnalis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/widyajurnalis.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widyajurnalis.wordpress.com&blog=211401&post=75&subd=widyajurnalis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widyajurnalis.wordpress.com/2007/04/19/mengemis-nasib-atau-profesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa5cabfb33474004e4f241b842f98dba?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">widyajurnalis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:caL_YoMJQD5O9M:http://a7.vox.com/6a00c225204cb8604a00c22528aabf8fdb-320pi" medium="image" />

		<media:content url="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/featured_pic/18/wimax46260cb6b324d.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:YSgJXbC7b3q0tM:http://i1.trekearth.com/photos/33611/pengemis_butaa_s_.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Ry0flQBHeL8jQM:http://www.sealindo.com/images/panduan/emotikon/emotikon_img_01.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:2ULMwPKIU563tM:http://www.tasyaonline.com/edisi14/pemenang/images/pengemis1.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:yKEgycqadEFUsM:http://images.tototapalnise.multiply.com/image/2/photos/upload/300x300/RCJq5goKClMAAART2WI1/peng.JPG%3Fet%3DFXXV321ClS5mTqAtFRapTQ" medium="image" />

		<media:content url="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/preview_pic/86/MetaSwitch4624c1ecb80b7.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Otih Munandar: ”Kami Tidak Mau Disebut Kampung Pengemis!!!”</title>
		<link>http://widyajurnalis.wordpress.com/2007/04/19/otih-munandar-%e2%80%9dkami-tidak-mau-disebut-kampung-pengemis%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://widyajurnalis.wordpress.com/2007/04/19/otih-munandar-%e2%80%9dkami-tidak-mau-disebut-kampung-pengemis%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2007 09:20:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>widya</dc:creator>
				<category><![CDATA[True Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://widyajurnalis.wordpress.com/2007/04/19/otih-munandar-%e2%80%9dkami-tidak-mau-disebut-kampung-pengemis%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah kisah pengemis di Bandung, Jawa Barat. Tulisan ini merupakan hasil depth reporting-ku yang telah dimuat di Koran Republika (Jawa BArat pada Desember 2005). Semoga kisah ini bisa menyentuh hati kita semua.
Potret daerah Sukajadi yang dikenal sebagai daerah pengemis memang telah menggema sejak dulu, bahkan hingga ke luar negeri. Apa yang membuat daerah ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widyajurnalis.wordpress.com&blog=211401&post=74&subd=widyajurnalis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/featured_pic/35/telcoms_to46260be8ea8d4.gif" align="left" />Berikut adalah kisah pengemis di Bandung, Jawa Barat. Tulisan ini merupakan hasil depth reporting-ku yang telah dimuat di Koran Republika (Jawa BArat pada Desember 2005). Semoga kisah ini bisa menyentuh hati kita semua.</p>
<p>Potret daerah Sukajadi yang dikenal sebagai daerah pengemis memang telah menggema sejak dulu, bahkan hingga ke luar negeri. Apa yang membuat daerah ini begitu tenar dengan embel-embel pengemisnya? Mungkinkah ada sindikasi pengemis di sana?</p>
<p>Saat ini, di kelurahan Sukabungah, Sukajadi, hidup sekitar 17 ribu orang yang terdaftar sebagai penduduk tetap. Namun, jumlah penduduknya meningkat menjadi 20 ribu orang karena ditambah dengan para pendatang yang sebagian besar adalah pengemis.</p>
<p>Di daerah seluas 49,9 hektar itu, terdapat 12 RW. Dari jumlah RW yang ada, terdapat tiga RW yang menjadi sarang pengemis, dan yang terbanyak adalah di RW 4.</p>
<p>Dulu, di RT 10 daerah tersebut, 85 persen penduduknya adalah pengemis. Mereka adalah pengemis murni. Para pengemis yang mencoba mengadu nasib ke Bandung itu berasal dari sebuah daerah, yaitu Brebes, Jawa Tengah. Sekarang, pengemis yang bermukim di gang Eme Atas dan Gang Asli, daerah Sukajadi ini, bukan lagi sebagai pengemis murni. Para pengemis yang ada saat ini memang masih berasal dari Brebes, tapi mereka sekarang lebih banyak menjadi pengemis musiman. Jumlah mereka semakin membengkak ketika bulan Ramadhan datang hingga hari raya Idul Fitri. <span id="more-74"></span></p>
<p><img src="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/preview_pic/74/Software_A461f7de2e9320.gif" align="right" height="50" width="50" />”Para pengemis yang datang itu musiman, kadang ada yang cuma untuk cari ongkos aja. Mereka itu semuanya dari Brebes. Ga ada yang lain. Tapi, kadang-kadang pengemis itu datang dan tiba-tiba membludak di sini. Kami tidak mau disebut kampung pengemis karena pengemis yang menjadi penduduk tetap di sini cuma beberapa orang, jumlahnya sekitar tiga persen. Itu juga bukan dari sini, tapi aslinya dari Grinting,” jelas Otih Munandar, Ketua RT 10, yang mengaku kewalahan mengurusi keberadaan pengemis yang ada di lingkungannya.</p>
<p>Memang benar apa yang dikatakan Otih. Pengemis yang ada di RW 4 tidak semuanya berkumpul di RT-nya. Di RW 4 mayoritas pengemis berada di lingkungan RT 8, RT 9, dan RT 10. Mereka tinggal di rumah-rumah kontrakan yang tidak layak untuk menjadi tempat tinggal bagi sebuah keluarga.</p>
<p><strong>Bisnis Kontrakan untuk Pengemis<img src="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/featured_pic/82/labor_logi46260c0fd82d9.gif" align="left" height="86" width="123" /></strong><br />
Bagi para pengemis, menjalani hidup di kota Bandung tidaklah mudah. Di Sukajadi, mereka harus mengontrak kamar untuk tidur dan berteduh. Namun, kamar yang mereka tempati sebenarnya sangat tidak layak untuk ditinggali oleh sebuah keluarga, termasuk oleh keluarga pengemis sekali pun.</p>
<p>Di RT 9 misalnya, terdapat sebuah rumah susun. Dalam bangunan tiga lantai dengan luas 10 m x 15 m itu, terdapat enam puluh bilik, dengan masing-masing bilik berukuran 2 m x 2 m. Di sana, hanya ada tiga kamar mandi dan satu pompa air.  Jika ingin mandi, para penghuni rumah susun itu harus rela memompa air dulu dan membawanya ke kamar mandi yang ada. Tragisnya, di atas kamar mandi tersebut, terdapat satu bilik yang dihuni oleh seorang pengemis dan keluarganya. Bukan hanya itu, karena rumah susun tersebut terlihat gelap dan tidak terdapat sarana ventilasi yang cukup bagi penghuninya untuk bisa sedikit menghirup udara segar.</p>
<p>Lain lagi cerita dari RT 10. Di sana terdapat sekitar sepuluh keluarga yang mengontrak di rumah susun yang terdiri atas kamar-kamar sempit. Jalan untuk menuju ke tiap kamar pun sempit dan curam, bahkan ada kamar yang untuk menuju ke tempat itu harus dengan setengah membungkukkan badan. Rata-rata, harga kamar-kamar tersebut berkisar Rp. 300.000 hingga Rp. 800.000, tergantung kondisi kamar yang ditempati.</p>
<p>”Yang ngontrak di sini orang yang minta-minta semua. Kalau bukan yang minta, terus terang ga laku. Karena tempatnya kaya’ kandang japati. Luas kamarnya ada yang dua meter, ada yang dua setengah meter. Tiap kamar itu dihuni satu keluarga. Satu keluarga biasanya ada tiga atau empat orang. Mereka dari Brebes semuanya. Kalau ngontrak satu, ada yang datang lagi. Jadi, bawa temen-temennya. Mereka ngontrak karena terpaksa. Setahun ngontrak ada yang Rp. 500.000. Kalau yang kaya’ kandang japati, harganya Rp. 300.000. Kontrakan yang ada di bawah harganya Rp. 500.000 sampai Rp. 600.000 karena untuk ke kamar-kamar itu harus turun tangga-tangga yang curam dulu. Kalau di atas harganya sekitar Rp. 800.000,” jelas Sarimah, pemilik kontrakan untuk para pengemis di RT 10.</p>
<p>Biasanya, para pengemis membayar kontrakannya dengan cara mencicil. Mereka umumnya tidak mampu untuk membayar untuk satu tahun sekaligus. Umumnya, para pemilik kontrakan memaklumi kondisi mereka. ”Bayar kontrakan di rumah Ibu Sarimah nyicil. Kalau ada Rp. 50.000 langsung dikasih. Ga kuat kalau harus bayar sekaligus,” jelas Tardi, pengemis asal Brebes yang mengalami kebutaan sejak dua tahun belakangan ini.</p>
<p>Para pemilik kontrakan umumnya warga Brebes yang memutuskan menjadi penduduk tetap di Sukajadi. Mereka sudah hidup bertahun-tahun di daerah yang memiliki 83 RT tersebut.</p>
<p>Bisnis kontrakan untuk pengemis ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Dulunya, ada di antara pemilik kontrakan yang juga pernah melakukan hal serupa, mengemis. Suami Sarimah, Chariyat, pernah menjadi pengemis selama tiga hari. Begitu juga dengan pemilik kontrakan lainnya, Caryo. Mereka umumnya menaruh belas kasihan, sehingga rela mengontrakkan kamar-kamarnya kepada para pengemis yang ada di Sukajadi.</p>
<p>”Sejak masih kecil, saya sudah di sini. Saya dulu minta-minta untuk membantu orang tua. Sekarang sudah ga minta-minta lagi. Sekarang, rumah saya dikontrakin untuk pengemis karena dia kan membutuhkan kamar. Masa’ dia harus tidur di kolong jembatan atau di emperan. Walaupun rumah itu seperti kandang dara yang diumpak-umpak, lumayan lah daripada tidur di kolong jembatan atau di emper toko, kan? Kasihan, dia juga butuh sesuap nasi. Di kontrakan itu ga ada kamar mandi. Kalau mandi ke luar, ada sumur umum dan tiga kamar mandi umum. Di situ khusus untuk tidur aja,” jelas Caryo, yang memberikan kontrakan kepada para pengemis dengan harga dua ratus ribu per tahun.</p>
<p><strong>Pro Kontra Warga Setempat</strong><br />
<img src="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/featured_pic/18/wimax46260cb6b324d.gif" align="left" height="86" width="123" />Keberadaan pengemis di kelurahan Sukabungah menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat setempat. Bahkan, RW 4 sempat mendapat julukan sebagai RW Gelandangan dan Pengemis (Gepeng), meskipun yang ada di sana hanya pengemis. Akibatnya, warga yang tidak hidup dari mengemis pun ikut menanggung beban moral.</p>
<p>Para pengemis itu sebagian besar tidak tercatat sebagai warga Sukajadi karena rata-rata mereka adalah kaum pendatang dan tidak melapor pada RT/RW setempat.</p>
<p>”Memang Ibu merasa keberatan juga. Kadang-kadang warga ada yang ngadu karena mereka pagi-pagi ada yang sudah berisik. Ibu keberatannya karena mereka ga lapor. Padahal sudah dikasih tau sama yang punya rumah kontrakan. Kalau mereka lapor kan bisa dibendung,” jelas Otih dengan nada menegaskan.</p>
<p>Para pengemis yang bermukim di Sukajadi memang tidak membebani warga secara materi. Akan tetapi, yang membuat warga memandang sinis kepada para pengemis yang tinggal di daerah tersebut adalah masalah pekerjaan mereka. ”Saya kurang setuju mereka ada di sini. Mereka cuma minta-minta dan ga bekerja, padahal mereka bisa mencari pekerjaan lain. Dulu, mereka ga sebanyak ini. Sekarang mah kelihatannya banyak,” tukas Hari Sodikin, salah seorang warga di RT 6.</p>
<p>Kesinisan warga tidak berhenti sampai di situ karena ternyata ada sebagian kecil pengemis yang memang memiliki rumah yang sangat layak untuk ditinggali ditambah dengan perabot yang lengkap. Mereka umumnya para pengemis yang kini telah beralih profesi. Kecemburuan sosial di kalangan warga Sukajadi terhadap para pengemis juga semakin menjadi-jadi karena warga mengetahui bahwa dalam sehari para pengemis itu bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar.</p>
<p>”Pendapatan pengemis sehari aja bisa Rp. 50.000. Arisan aja tiap minggu Rp. 125.000. Bapak paling-paling dapat Rp. 50.000 dalam seminggu karena penghasilan Bapak juga ga tentu. Dia mah Rp. 50.000 itu sudah pasti, paling sepi bisa dapat tiga puluh ribu sampai empat puluh ribu. Coba bayangkan, dia mampu bayar arisan Rp. 125.000, belum sama makan sehari-hari, belum kontrak rumah,  dan bayar listrik. Dari situ aja sudah ketahuan dan jelas. Ada juga pengemis yang punya rumah bagus, ibunya suka diantar ngemis pakai motor, pulang dijemput. Ada juga di sini pengemis yang punya penyakit polio, tapi pendapatannya lumayan sampai bisa beli tanah dengan harga jutaan,” jelas Engkos, ketua RT 5 yang berprofesi sebagai penjahit.</p>
<p>Berkembangnya isu mengenai pendapatan pengemis yang bisa mencapai lima puluh ribu dalam sehari dibantah keras oleh para pengemis. Mereka umumnya membela diri dengan menyatakan bahwa maksimal dalam sehari mereka hanya bisa mendapatkan uang sebesar Rp. 15.000.</p>
<p>”Sehari paling dapat lima belas ribu atau sepuluh ribu. Ga tentu. Biasanya berangkat pagi, pulang sore paling dapat Rp. 20.000. Yah cukup, ga cukup harus cukup. Saya seperti ditekan dalam hidup ini karena kekurangan ekonomi. Misalnya, saya dapat Rp. 20.000, sepuluh ribu buat setor. Kalau di jalan, kadang-kadang ada yang ngasih jajan,” tutur Casmah, perempuan asal Brebes yang menjadi pengemis sejak tahun 2000.<br />
Namun, tidak semua penduduk di kelurahan Sukabungah itu merasa terusik dengan keberadaan pengemis. Umumnya, mereka yang senang dengan adanya pengemis adalah para pemilik warung. Rata-rata para pengemis yang berbelanja di warung-warung, menggunakan uang receh yang memang sering kali menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pemilik warung.</p>
<p>”Kalau Ibu mah setuju ada pengemis di sini karena ada imbasnya ke warung juga. Yang beli sebagian kan mereka. Penghasilan ibu sebagian receh. Jadi warung ini ga pernah kekurangan uang receh. Kalau di warung-warung lain kan suka kekurangan receh,” tukas Dede, pemilik warung yang juga sering meminjamkan uang kepada para pengemis.</p>
<p>Namun, pengemis yang rata-rata hidup pas-pasan itu setiap bulannya selalu dipungut biaya. Menurut pengakuan sekretaris RW 4, Asep Sadikin, iuran itu merupakan iuran wajib kepada setiap warga yang tinggal di situ. ”Di sini sering ditarikin uang sama RT. Per bulannya sekitar Rp. 2.000 atau Rp. 3.000,” jelas Darso, pengemis yang dulunya pernah narik becak di kampungnya.</p>
<p>Pengemis di sekitar Sukajadi memang dipungut iuran oleh RT/RW setempat. Tapi, mereka sering kali tidak mendapatkan kompensasi atas iuran yang dibayarnya karena dianggap sebagai warga yang mampu dalam hal ekonomi. ”Mereka suka dipungut iuran wajib sama RT/ RW, tapi kalau ada apa-apa ga pernah dikasih. Waktu pembagian zakat fitrah aja hanya dua orang yang dikasih,” tambah Sarimah dengan nada meninggi.</p>
<p><strong>Masalah Mental Pengemis</strong><br />
<img src="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/preview_pic/86/MetaSwitch4624c1ecb80b7.gif" align="left" height="50" width="50" />Penanganan pengemis oleh aparat di Sukajadi sebenarnya sudah dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Namun, sampai saat ini upaya yang dilakukan ternyata tidak banyak membuahkan hasil.</p>
<p>Para pengurus di kelurahan Sukabungah telah melakukan usaha lewat jalan kerja sama dengan berbagai pihak, di antaranya Yayasan Daarut Tauhid, yayasan Bahtera, juga Dinas Sosial. Bahkan dari Dinas Sosial pernah menawarkan solusi kepada para pengemis untuk alih profesi. Pengemis yang masih berada pada usia produktif ditawari pekerjaan dan pengemis yang sudah berusia lanjut boleh mendaftarkan diri agar bisa tinggal dan mendapat perawatan di panti jompo. Namun, tawaran itu tak mendapat respon positif hingga sekarang.</p>
<p>”Sebenarnya itu masalah mental. Lama-kelamaan mereka merasa enak tinggal di sini karena ada keluarga. Mereka itu memang penyakit dan memang bermental pemalas,” tukas A. Tarmedi, tokoh masyarakat yang pernah menjabat sebagai ketua RW 4.</p>
<p>Rupanya, terjun ke jalan dan meminta-minta lebih menyenangkan bagi pengemis kota Bandung yang sebagian besar tinggal di Sukajadi. Kalau sudah masalah mental, butuh waktu bertahun-tahun untuk mengubahnya. Para pengemis itu rupanya masih belum begitu merasakan ”ketidaksukaan” warga kepada mereka.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/widyajurnalis.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/widyajurnalis.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/widyajurnalis.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/widyajurnalis.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/widyajurnalis.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/widyajurnalis.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/widyajurnalis.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/widyajurnalis.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/widyajurnalis.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/widyajurnalis.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/widyajurnalis.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/widyajurnalis.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widyajurnalis.wordpress.com&blog=211401&post=74&subd=widyajurnalis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widyajurnalis.wordpress.com/2007/04/19/otih-munandar-%e2%80%9dkami-tidak-mau-disebut-kampung-pengemis%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa5cabfb33474004e4f241b842f98dba?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">widyajurnalis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/featured_pic/35/telcoms_to46260be8ea8d4.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/preview_pic/74/Software_A461f7de2e9320.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/featured_pic/82/labor_logi46260c0fd82d9.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/featured_pic/18/wimax46260cb6b324d.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://enterprise.sda-india.com/ia/ia_news/pspic/preview_pic/86/MetaSwitch4624c1ecb80b7.gif" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>